Jumat, 12 Desember 2008

Koneksi Internet Broadband 3.5G dengan Sistem Operasi GNU/Linux

Oleh: Sis Soesetijo


 


 

    Penulis memutuskan untuk menggunakan Nokia E51 sebagai modem karena fitur yang lengkap dan harga yang terjangkau. Spesifikasi yang dibutuhkan semua ada di E51 itu yaitu koneksitas WLAN, HSDPA (3.5G), IrDA, Bluetooth dan kabel USB. Ada fitur tambahan seperti kamera dengan resolusi 2 M, namun ini bukan hal yang utama. Sehari-hari penulis menggunakan OS Mandriva 2007 dengan kernel 2.6.18.rc7 (default kernel) atau kernel 2.6.22.5 (compile kernel sendiri) pada Notebook HP nx6320. Untuk koneksi ke Nokia E51, digunakan kernel 2.6.22.5 karena pada kernel ini kabel DKE-2 Nokia E51 terdeteksi sebagai ttyACM0 sedangkan pada kernel 2.6.18 tidak terdeteksi. Setelah kabel DKE-2 diplug-in ke USB Notebook maka menampilkan seperti gambar 1 berikut ini.


 


 

Gambar 1. Interface ttyACM0 pada kabel DKE-2


 

Sedangkan pada layar handset akan menampilkan pilihan mode seperti pada gambar 2 . Pilih PC Suite untuk koneksi ke E51 sebagai modem.


 


 

Gambar 2. Pilihlah Mode PC Suite


 

Pada koneksi ini digunakan protokol point-to-point "ppp" bukan "wvdial" atau yang lainnya. Kemudian penulis mendapatkan script koneksi GPRS di situs ini http://kapsi.fi/~mcfrisk/linux_gprs.html. Kopikan konfigurasi pppd ("gprs"), AT command script untuk koneksi dan diskoneksi ("gprs-connect-chat" dan "gprs-disconnect-chat"). Kemudian ketiga script ini dikopikan ke /etc/ppp/peers/.

    Untuk koneksi ini, penulis menggunakan kartu pasca bayar Matrix Indosat. Untuk mendapatkan koneksi GPRS 3G, harus dilakukan registrasi terlebih dahulu dengan mengirim sms reg 3g ke 777 dan akan mendapatkan pin untuk handset. Yang perlu diperhatikan adalah setting APN "indosatgprs" username "indosat" dan password "indosat".

    Setelah ketiga script di atas dikopikan, ada beberapa script yang perlu diedit sesuai setting-an pada jaringan GPRS Indosat yang akan digunakan. Sebelumnya harus dipastikan root dan group dapat melakukan eksekusi pada ketiga file script tersebut dengan mengubah chmod-nya (gambar 3).


 

Gambar 3.


 


 

  1. gprs script
  • ubah /dev/ttyUSB0 (gambar 4) menjadi /dev/ttyACM0 (gambar 5)
  • hilangkan tanda # pada "connect /etc/ppp/peers/gprs-connect-chat"
  • tambahkan tanda # pada "connect "/usr/bin/wvdial........" (gambar 6)
  • ubah user "rlnet" menjadi "indosat" (gambar 7)


 


 

Gambar 4.


 

Gambar 5.


 


 

Gambar 6.


 


 


 

Gambar 7.


 


 


 


 

    2. gprs-connect-chat scripts

Gambar 8.


 

    Ada 2 poin yang harus diganti pada script ini (gambar 8) yaitu "internet" ganti menjadi "indosatgprs" dan ATD*99# menjadi ATD*99***1#.

    Apabila telah selesai mengedit script (gprs dan gprs-connect-chat), jalankan script tersebut dengan perintah seperti gambar 9 pada posisi root. Pastikan berada di directory /etc/ppp/peers/ dimana ketiga script tersebut berada.

Gambar 9.


 

Gambar 10.

    

    Gambar 9 dan 10 menunjukkan kondisi setting gprs tersebut berhasil. Koneksi internet telah siap dilakukan. Interface yang muncul adalah ppp0, bisa dicek menggunakan ifconfig (gambar 10). Dengan perintah itu nomor ip kita bisa diketahui.

Gambar 11.


 

    Hasil pengujian bandwidth dengan menggunakan bandwidth-meter yang berada di site http://3g.indosat.com/ memperoleh hasil sebesar 266 kbps (gambar 12).

Gambar 12.


 


 

    Untuk mengakhiri koneksi, tinggal tekan ctrl+c, pada konsole akan muncul pesan seperti gambar 13.


 

Gambar 13.


 


 


 


 


 

Senin, 18 Februari 2008

SMS, EMS dan MMS

Oleh: Sis Soesetijo

Dengan jumlah pelanggan hampir mendekati 80 juta pada awal tahun 2008, perkembangan teknologi selular GSM baik GSM 900 maupun 1800 makin tak terkejar dengan teknologi telepon tetap (PSTN) yang hanya punya 9 juta pelanggan. Perkembangan teknologi yang dimaksud meliputi perkembangan teknologinya sendiri maupun fitur-fitur pendukung teknologinya beserta fitur turunannya. Teknologi koneksi yang dipakai PSTN masih menggunakan circuit-switched baik untuk data dan suara (kecuali koneksi SLJJ dan SLI via 017) sedangkan GSM sekarang sudah beranjak ke packet-switched. Konsekuensi-logisnya fitur-fitur yang dimiliki GSM jauh lebih berkembang seperti WAP, GPRS, SMS, EMS dan MMS. Sedikit banyak karena faktor itulah, banyak masyarakat awam berminat untuk memiliki ponsel GSM berbagai model yang paling canggih dan terbaru walau secara teknologi mereka banyak tidak tahu cara menggunakannya. Untuk sedikit membantu mengatasi gap teknologi itu, akan dijelaskan sejarah dan pengertian beserta beberapa perbedaan dan persamaan antara SMS, EMS dan MMS pada teknologi GSM 900/1800.

SMS (short message service)

Fitur dasar yang dimiliki teknologi GSM adalah layanan pesan singkat atau dikenal dengan SMS, suara (voice) dan voice-mail service/box. Yang dimaksud fitur dasar di sini adalah ketika GSM pertama kali hadir pada tahun 1991 di Eropa, ketiga fitur itu sudah menyertainya. Hanya implementasinya saja terlambat beberapa tahun dari induknya. Dikenalkan pada masyarakat pertama kali pada tahun 1995 oleh BellSouth Mobility and Nextel. Di Indonesia sendiri GSM pertama kali hadir pada tahun 1993 dan SMS mulai beredar di udara pada tahun 1997, namun itupun masih beredar pada ponsel intra operator, belum bisa digunakan antar ponsel yang beda operator. Baru pada tahun 1999, dibuka interkoneksi antar ketiga operator GSM yaitu Satelindo, Telkomsel dan Excelcomindo. Pada tahun inilah SMS mengalami booming luar biasa. Sampai-sampai kapasitas server pada SMS Center (SMSC) pada masing-masing operator tidak mampu melayani jumlah trafik SMS para pelanggannya padahal waktu itu jumlah pelanggan GSM tidak lebih dari 5 juta. Namun sekarang kapasitas servernya rata-rata sudah bisa menampung di atas angka 36000 SMS tiap menit. Sungguh luar biasa perkembangan GSM dengan SMS-nya ini.

Secara teknologi, SMS ini bukanlah teknologi realtime walaupun waktu kirim dan terima terlihat sangat cepat kurang dari 1 detik. Teknologi yang digunakan adalah store and forward service, jadi SMS yang dikirim akan disimpan sementara di server SMSC dan kemudian dialihkan ke nomor tujuan. Jadi sebenarnya kita mengirim SMS ke nomornya SMSC sesuai nomor yang disetting pada menu service center messagge pada setiap ponsel. Kemudian oleh SMSC akan diteruskan ke nomor tujuan, setelah dicek di HLR (home location register) untuk menentukan apakah ponsel aktif atau tidak. Apabila aktif, pesan SMS akan diteruskan ke nomor tujuan. Sedangkan apabila tidak aktif, akan sementara disimpan di server sampai waktu tertentu. Kondisi aktifpun sebetulnya tidak menjamin SMS bisa sampai dengan cepat, itupun masih tergantung dengan bandwidth jaringan yang digunakan untuk interkoneksi antar server SMSC operator. Lebib jelasnya dapat dilihat gambar 1, ponsel HP A mengirimkan pesan SMS ke ponsel B, pesan yang dikirim akan di terima oleh MSC yang kemudian diteruskan ke HLR untuk pengecekan status HP B, proses ini paralel dengan proses di SMSC. Apabila aktif akan dikirim pesannya ke ponsel HP B. Bagaimana kalau kirim SMS yang beda operator? Cara yang dilakukan adalah dengan kerjasama interkoneksi server SMSC-nya masing-masing operator. Interkoneksi SMS center bisa dilakukan dengan dua cara yaitu melewati koneksi SMS gateway via jaringan internet/IP network atau langsung interface antar SMS Center operator. Cara yang terakhir ini proses routingnya jauh lebih cepat.

Bandwidth (lebar-jalur) untuk satu pesan SMS ukuran 140 bytes adalah kurang dari 0.25 kbps. Memang sangat kecil yang dibutuhkan, tetapi kalo coba kita kalikan dengan jumlah pelanggan 20 juta. Berapa lebar jalur yang dibutuhkan? Ukuran satu pesan SMS sudah distandarkan maksimum sebesar 140 bytes atau setara 160 karakter ASCII secara internasional oleh ETSI dalam dokumen GSM 03.04. Pesan yang bisa ditulis/dikirim di ponsel pun hanya berupa karakter ASCII yaitu text, spasi dan tanda baca. Di pasaran banyak beredar ponsel dengan kapasitas long SMS sampai 1500 karakter, namun waktu kita kirim tetap saja akan “dipotong-potong” secara otomatis oleh SMSC menjadi beberapa pesan SMS dengan maksimum 160 karakter saja.

Beberapa operator mempunyai produk yang mereka namai sebagai Realtime SMS -–lebih tepatnya Value Added Service SMS (VAS SMS)--seperti Excelcomindo dengan ProXL Life-in-hand dan Indosat dengan Satelindo@cces dan M3@ccess-nya. Sebetulnya istilah ini digunakan untuk mengilustrasikan kepada pelanggan bahwa mereka dapat mengakses informasi di tempat lain secara realtime ataupun transaksi perbankan secara realtime/online. Struktur tarifpun antara SMS reguler dengan VAS SMS jauh berbeda, yang pasti VAS SMS jauh lebih mahal.

Apakah ada perbedaan antara SMS yang digunakan pada GSM dan telepon rumah ? Ada dua perbedaan dasar yaitu SMS pada GSM menggunakan kanal signalling di luar kanal suara (out-of-band signalling) sehingga samasekali tidak mengganggu kualitas suara kita –--dengan kuat sinyal cukup satu bar (sekitar -90 dBm) saja, kita sudah bisa kirim/terima SMS--- sedangkan SMS pada telepon rumah menggunakan satu saluran dengan kanal suara (in band signalling). Yang kedua adalah pada telepon rumah harus menggunakan terminal khusus yang SMS-enabled dan yang pasti terminal ini tidak mobile.


EMS (enhanced message service)

Ketika kebutuhan untuk mengekspresikan pikiran/gagasan/perasaan dalam bentuk format karakter saja tidak cukup, maka kemudian muncul pengembangan baru dari SMS yang disebut dengan Enhanced SMS atau sering disingkat EMS saja. Dengan EMS ini kandungan (content) dari pesan bisa berupa animasi, gambar, melodi dan teks terformat dan kemudian disatukan dalam satu pesan SMS berkapasitas 140 bytes. Struktur jaringan dan routing EMS sama persis dengan proses SMS dan menggunakan server yang sama dengan SMS Center yang setting service center-nya sama pula. Yang menarik dari format teks dalam EMS adalah teks-teks tersebut dapat diatur ukuran (small, medium atau large) dan bentuknya (normal, bold, italic, underline, text color). Untuk format gambar dalam EMS hanya mengenal dua ukuran yaitu small sebesar 16X16 pixel dan large sebesar 32X32 pixel dan itupun format gambar harus hitam putih saja. Sedangkan animasi mengenal dua ukuran yaitu small (8X8 pixel) dan large (16X16 pixel) dan juga hitam putih saja dengan catatan bahwa gambar animasi tersebut sudah disediakan pada database-nya ponsel. Jadi tidak bisa membuat sendiri sesuai kehendak hati pengguna ponsel. Dan yang terakhir adalah format melodi pada EMS, sama seperti format animasi yaitu semua format melodi harus sudah tersedia pada database-nya ponsel dan hanya mengenal melodi monofonik saja.

Bentuk pesan EMS ini menjadi tidak populer karena formatnya yang kaku ( dibatasi sebesar 140 bytes saja sama seperti ukuran SMS dan tidak bisa sesuka hati pengguna untuk membuatnya sendiri) dan standar EMS ini tidak didukung oleh semua vendor pembuat ponsel. Pesan dalan bentuk EMS ini nyaris tidak terdengar, tidak seperti kepopuleran SMS yang notabene kakak kandungnya sendiri .


MMS (multimedia messaging service)

Konsep dasar dari MMS hampir sama dengan SMS, namun pada MMS tidak hanya menggunakan kanal/saluran signalling saja seperti SMS, juga menggunakan kanal/saluran suara. Kenapa bisa demikian? Karena besar data MMS jauh melebihi besar SMS yang hanya sebesar 140 bytes sedangkan besarnya data untuk kanal signalling hanya maksimal 3 kilobytes. Besar data MMS sekitar 30.000 bytes atau lebih, belum ada batasan besar data maksimum untuk MMS.Oleh karena besarnya data ini maka data tersebut sewaktu ditransmisikan akan dibagi-bagi dalam paket paket data yang lebih kecil. Teknik ini disebut packet-switched data. Di Indonesia, tarif MMS lintas operator ditetapkan sebesar 1000 rupiah untuk tiap 50 kilobytes (pascabayar) dan 1250 rupiah untuk kartu prabayar. Jadi semakin besar data yang dikirim dengan MMS akan semakin mahal dan tentu saja waktu yang dibutuhkan untuk transfer MMS akan semakin lama pula. Dengan ukuran data sebesar itu maka MMS akan dapat mengatasi keterbatasan teknologi pada SMS. Kandungan MMS meliputi teks yang bisa diformat sesuai hati, grafik ---tabel, chart, diagram, peta, sket gambar, atau layout gambar---, image ---image bisa diperoleh dari camera yang built in di ponsel atau hasil kreasi sendiri dalam bentuk jpeg, bmp atau gif---, audio --- MMS jg bisa digunakan untuk mengirim lagu dalam format MP3, midi, wav atau jingle lagu buatan sendiri---, video ---dalam bentuk video klip maksimal 30 detik saja dengan format video mpeg4, ITU-T H.263--- dan streaming media --- ukuran video dan audio yang besar juga dapat ditransfer dengan menggunakan media MMS seperti informasi lalulintas jalan raya, namun pada teknik streaming, hasil streamingnya tidak disimpan di ponsel, hanya ditampilkan di layar ponsel saja.

Berikut beberapa pertanyaan terkait dengan MMS :

Apakah semua ponsel yang punya fasilitas GPRS bisa digunakan untuk MMS ? Jawabannya tentu saja tidak bisa, karena GPRS hanya merupakan teknik koneksi packet-switched data saja. Sedangkan MMS merupakan teknologi messaging yang untuk mentransfernya butuh teknologi GPRS. Jadi kalo ponsel itu mempunyai fitur MMS pasti ada fitur GPRS-nya bukan sebaliknya.

Apakah ponsel yang MMS-enabled dapat mengirimkan pesannya pada ponsel tanpa fitur itu ? Pesan MMS yang dikirim dari ponsel tersebut akan dicek terlebih dahulu melalui VLR, apakah ponsel penerima punya fitur MMS atau tidak, apabila tidak MMS Server akan mengirim pesan dalam bentuk SMS saja kepada pengguna ponsel tujuan yang menginformasikan bahwa ada pesan MMS yang dapat dilihat di alamat website ini.







Rabu, 23 Januari 2008

Mengenal Lebih Dalam Teknologi GSM dengan Bantuan Ponsel


Gambar 1. Konsep Seluler dalam representasi lingkaran dan ponsel

 

Gambar 2. Jaringan GSM




gambar 3. Tampilan kanal dan time slot pada ponsel Nokia 6110



gambar 4. Pembagian Spektrum Frekuensi GSM 900



Oleh : Sis Soesetijo

Sebagai alat komunikasi bergerak, ponsel (telepon seluler) tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi secara lisan (voice) dan tulis (sms) namun juga sebagai media akses untuk berselancar di dunia maya. Selain fungsi tersebut, ternyata ponsel juga dapat digunakan sebagai alat ukur sekaligus media pembelajaran teknologi dasar seluler. Untuk memahaminya berikut akan diuraikan secara runtut tentang teknologi seluler dari konsep dasar sampai pemahamannya dengan menggunakan media ponsel untuk memonitor jaringan GSM. Di tengah-tengah menjamurnya pengguna ponsel GSM, mudah-mudahan uraian berikut bisa memberi nilai tambah pengetahuan sehingga kita bukan hanya sekedar end-user.


KONSEP SELULER
Kata seluler sendiri berasal dari kata sel. Sel yang kita kenal merupakan satuan paling kecil yang menyusun tubuh makhluk hidup. Dalam teknologi seluler sendiri, daerah layanan (coverage area) dibagi kecil-kecil menjadi seperti sel, sehingga daerah layanan seluas kota DKI Jakarta dibagi menjadi ratusan sel-sel. Jadi total kalau daerah layanan seluas Indonesia ini bakal ada ribuan sel-sel yang membentuk jaringan besar. Untuk membedakan antara satu sel dengan sel yang lain maka masing-masing sel diberi identitas, sehingga antar sel tidak mungkin sama. Tidak sama dalam hal baik muatan kanal-kanal frekuensinya maupun parameter yang lain.
Dalam jaringan GSM, identitas sel ini disebut Cell Identity (CI). Kumpulan beberapa sel membentuk kelompok besar yang disebut Local Area. Jadi ribuan sel-sel itu akan dikelompokkan dalam Local Area yang jumlahnya bisa ratusan atau ribuan tergantung kapasitas masing-masing local area. Local Area ini masing-masing juga memiliki identitas (LAI, Local Area Identity) sebagai pembeda dengan yang lain. Demikian juga selanjutnya Local Area bakal membentuk jaringan GSM yang disebut Mobile Network Code (MNC).Untuk mempermudah pemahaman lihat gambar 1 dengan peraga ponsel Siemens SL-45. Tampilan netmonitor baik siemens SL45 maupun nokia 6110 tersebut dimunculkan dengan software ssgc dengan sistem operasi windows (seri siemens 55 ke bawah) atau gnokii dengan sistem operasi GNU/Linux (nokia seri DCT3). Keduanya dapat dicari dan didownload di internet dengan mudah.
Tiap-tiap jaringan GSM baik 900 maupun 1800 ini mempunyai MNC yang berbeda-beda. Seperti Jaringan GSM Satelindo/Indosat mempunyai kode 01 dan Telkomsel kode 10. Tiap jaringan GSM negara kita (MCC, Mobile Country Code) dengan jaringan GSM negara yang lain juga pasti beda. Indonesia mempunyai kode awalan 510. Kode 510 ini biasanya muncul waktu kita melihat nomor IMSI (International Mobile Subscriber Identity). Baik kode MNC dan MCC dapat dilihat pada gambar satu setelah teks LAI. Pada gambar tersebut tertulis 15F010, artinya MCC-nya 510 dengan MNC-nya 01 . Dari kode ini diketahui siapa operatornya. Detil kode MNC dan MCC tiap operator dapat dilihat pada tabel 1.

Dari gambar 1 konsep sel di atas dapat dilihat bahwa CI merupakan daerah layanan terkecil dalam jaringan GSM. CI dengan nomor F570 (hexa) ini dalam implementasinya merupakan identitas untuk BTS (Base Transceiver System). Tiap BTS-BTS itu menghuni sel masing-masing. Jadi singkatnya identitas sel juga merupakan identitasnya BTS. BTS sendiri merupakan ujung tombak dalam jaringan GSM. Kontak langsung ponsel pengguna adalah dengan BTS ini. Kualitas sinyal ponsel (kuat-lemahnya) sangat bergantung pada kualitas BTS-nya. Gambar 1 menunjukkan daya terimanya sebesar -71 dBm. Itu berarti bahwa BTS memancarkan daya sebesar minus tujuhpuluh satu dBm pada ponsel (pada kondisi idle). Sedangkan LAI berkode 3214 itu merupakan identitas BSC ( Base Station Controller). Jelasnya BSC ini membawahi beberapa BTS. Selanjutnya di atas BSC terdapat MSC ( Mobile Switching Center). Demikian juga MSC membawahi beberapa BSC. Dalam jaringan GSM, MSC itu setara dengan sentral telepon di Telkom (STO). Antara jaringan GSM Telkomsel dengan Satelindo mempunyai kode yang berbeda.

TEKNOLOGI MULTIPLE ACCESS
Teknologi GSM baik 900 maupun 1800/1900 MHz menggunakan teknologi multiple access hybrid FDMA dan TDMA. Teknologi ini membagi spektrum frekuensi GSM menjadi beberapa kanal frekuensi (CH) pada tiap kanal frekuensi terbagi lagi menjadi 8 slot (8 TS) yang berbeda-beda. Jadi 1 CH = 8 TS, dimulai dari kanal 1 sampai kanal 124 dan dari TS (Time Slot) 0 sampai dengan TS 7. Pada gambar 3 menunjukkan user dalam kondisi dedicated sedang menduduki kanal 36 dengan TS 3. Kanal dan timeslot ini , oleh pengguna lain sudah tidak bisa dipakai lagi. Pengguna lain boleh pakai selain kanal 36 dan timeslot 3 yaitu kanal 36/TS 0, 36/TS 1 dan seterusnya selain TS 3.
Dengan demikian kapasitas tiap kanal frekuensi ini dapat dipakai secara bersamaan oleh 8 pengguna tanpa terasa ternganggu satu sama lain. Jumlah 124 kanal berarti ada 992 pembicaraan secara simultan (124 x 8). Dengan jumlah pelanggan GSM yang jumlahnya puluhan juta, penggunaan kanal frekuensi ini harus diulang (frequency re-use) dalam beberapa sel dengan lokasi yang beda tentunya. Jarak antara sel yang menggunakan kanal yang sama harus mengikuti formulasi tertentu agar tidak terjadi interferensi antar kanal itu. Interferensi ini akan menurunkan kualitas sinyal GSM.
Pembagian spektrum frekuensi GSM 900 telah diatur oleh pemerintah pada 3 operator GSM yaitu Satelindo, Telkomsel dan XL. Kanal selebar 25 MHz dibagikan kepada 3 operator. Dengan perincian 10 MHz pertama diambil satelindo, sisanya dibagi rata antara telkomsel dan XL. Berarti juga, satelindo pegang kanal 1 sampai 50, telkomsel kanal 51-87 dan XL kanal 88-124 (lihat gambar 4).

PENUTUP
Dengan menggunakan sarana ponsel ini, kita juga biss melihat kuat dan lemahnya sinyal ponsel dimanapun berada, sehingga paling tidak hal ini sebagai acuan untuk membeli kartu GSM apa yang bisa dipakai di daerah kita sedang berada. Apabila kita menggunakan petunjuk bar sinyal saja, hal itu tidak cukup karena tampilan bar tiap merek ponsel pasti berbeda. Pada ponsel Nokia pada bar ke 2, menunjukkan -85 dBm, sedangkan siemens bisa -90 dBm. Selain hal di atas yang terpenting kita juga bisa mendapat pengetahuan dasar tentang GSM, bukan hanya sekelas user.

Senin, 17 Desember 2007

BELANTARA MENARA DI KAMPUS: Manfaat dan Kerugian

Gambar 1. Tiga buah menara berdiri dalam kampus

Oleh: Sis Soesetijo


Peningkatan jumlah pelanggan ponsel baik sistem GSM maupun CDMA membuat para operator seluler harus meningkatkan layanan dengan baik. Kalau tidak, pelanggannya akan berpindah ke operator kompetitor. Walau kadang-kadang, alasan perpindahan itu bisa susah masuk di akal, di luar faktor layanan itu. Salahsatu peningkatan layanan adalah membuka, menambah dan memperluas coverage area dengan mendirikan menara-menara telekomunikasi sebagai tempat untuk pemasangan perangkat BTS/BSC. Perangkat BTS ini yang langsung berinteraksi dengan ponsel pelanggan. Makin dekat dengan menara/perangkat BTS, semakin kuat sinyal ponsel pelanggan.
Pada kolom berita detikInet dengan judul BTS kokoh berdiri, siswa-siswi tetap gaptek, tulisan tersebut menuturkan bahwa di daerah Deli Serdang, Medan, penempatan menara dengan perangkat BTS di sebuah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) samasekali tidak memberikan manfaat pada siswa-siswa. Mereka tetap saja gaptek (gagap teknologi), fasilitas komputerpun mereka ngga punya apalagi akses internet. Bahkan menara BTS pun, mereka pasti ngga tahu apa itu.
Penulis melihat kondisi ini begitu ironis, benarkah seperti ini : kemajuan teknologi telekomunikasi tidak sertamerta memberi manfaat positif buat lingkungan sekitarnya. Ada kesan baik operator maupun sekolah, tidak mengetahui betul jeroan teknologi ini minimal manfaatnya bagi mereka. Pihak sekolah dan operator hanya deal membangun menara BTS ini untuk manfaat jangka pendek. Pihak sekolah mungkin hanya menerima manfaat materi/finansial dari perjanjian penempatan menara BTS ini di lokasi sekolah dari pihak operator. Pun pihak operator tidak menawarkan alternatif kompensasi atas perjanjian kerjasama ini.

DAERAH CAKUPAN (COVERAGE AREA)
Menambah atau memperluar daerah cakupan (coverage area) merupakan obat mujarab bagi operator untuk meningkatkan layanan. Sebelumnya di daerah itu sinyalnya masih lemah (bahkan tidak
ada sama sekali), dengan dibangunnya BTS baru, sinyal menjadi lebih kuat. Dengan daerah cakupan yang baru, operator mendapatkan pelanggan baru. Salahsatu operator telah mengiklankan diri bahwa daerah cakupannya sudah sampai pada tingkat kecamatan. Ini berarti (kalau memang benar) pada setiap kecamatan, operator itu mendirikan menara pemancar/penerima (BTS).
Peningkatan daerah layanan dengan menambah atau memperluas area cakupan berarti juga mendirikan menara untuk dipasangi perangkat BTS. Pendirian menara memang harus dilakukan karena untuk menjadikan daerah tersebut menjadi daerah cakupan operator seluler membutuhkan lokasi tinggi tertentu agar BTS mampu mentransmisikan gelombang radionya dengan baik sehingga antara pelanggan ponsel dengan perangkat BTS tidak banyak mengalami gangguan fading. Pelanggan akan merasakan sinyal ponselnya lebih kuat.
Penggantian menara dengan gedung-gedung tinggi di daerah perkotaan untuk siap dan layak dibangun dan ditempati perangkat BTS tidak selalu memudahkan para operator. Malahan kadang memperbanyak kendala-kendala non-teknis. Umumnya operator cenderung menggunakan gedung tinggi sebagai tempat mendirikan menara sehingga ketinggian menara yang akan dibangun bisa berkurang. Coba kita lihat 3 buah menara di gedung fakultas psikologi Ubaya Tenggilis. Mereka mendirikan menara setinggi antara 10-15 meter diatas gedung PE dan PD berlantai 4. Menara sebanyak 3 buah berarti juga 3 operator seluler berada pada daerah cakupan itu. Perhatikan gambar 1 dimana 3 buah menara itu berada. Apabila kita perhatikan juga (tidak nampak di gambar), di sisi utara kampus Ubaya terdapat 2 menara milik 2 operator yang berberbeda dengan jarak tak lebih dari 20 meter. Apabila kita perhatikan secara seksama dari kelima menara itu, ada satu menara yang belum terpakai sampai detik ini dan hanya ada satu menara yang dipakai secara bersama-sama walau masih dalam lingkup payung operator yang sama. Yang dimaksud dipakai bersama-sama di sini adalah dengan menggunakan menara yang sama, mereka menempatkan perangkat BTS (termasuk antena) yang berbeda. Untuk daerah cakupan sectorized, ada 3 antena yang dipasang di atas menara itu untuk mencakup 3 sektor. Operator menempatkan 3 BTS untuk 3 antena pada ketinggian yang sama. Sisa ruang pada menara bisa dimanfaatkan oleh operator yang lain, atau operator yang sama dengan teknologi yang berbeda/sama dan frekuensi yang berbeda pula tentunya.
Pemakaian bersama-sama ini juga harus mempertimbangkan persyaratan teknis tergantung pada perangkat yang digunakan, apakah dari vendor yang sama atau tidak, karena masing-masing vendor BTS mempunyai spesifikasi yang unik. Itu belum termasuk penempatan antena pada tiap-tiap operator, apakah menempati ketinggian yang sama/tidak dan pada posisi sektor yang sama/tidak. Penempatan yang salah bukan malah memperluas coverage area, bisa-bisa mengacaukan semua sinyal pada daerah itu.

MANFAAT
Mereka membangun BTS-BTS ini di dalam kampus, karena terdapat pelanggan yang sangat potensial, Ubaya memiliki ribuan mahasiswa, dimana (hampir) setiap mahasiswa pasti memiliki ponsel. Jadi operator tidak perlu berpikir panjang lagi untuk menempatkan menaranya di dalam lokasi atau dekat lokasi kampus. Prospek sebagai mesin uang bagi operator sudah nampak di depan mata.
Operator biasanya menawarkan kompensasi materi sebagai ongkos pengganti tempat untuk mendirikan menara itu pada jangka waktu tertentu. Pihak sekolah/kampus pasti setuju dengan skema kompensasi itu, mungkin yang agak alot barangkali besaran kompensasinya. Hal ini lumrah terjadi dimana-mana bukan hanya pihak sekolah sebagai pemilik lahan, namun juga pemilik lahan atau gedung yang tempatnya dijadikan lahan penempatan menara operator. Operator hanya menawarkan kompensasi seperti itu dan tidak ada alternatif lainnya.
Benarkan, kita tidak mendapatkan manfaat apa-apa selain kompensasi materi...?
Salahsatu yang bisa kita manfaatkan adalah penggunaan radiolink sebagai alternatif akses internet broadband. Operator menggunakan radiolink gelombangmikro sebagai penghubung antara BTS dengan BSC/MSC. Gelombang mikro yang digunakan operator bervariasi dari frekuensi 4 Ghz sampai 23 Ghz. Kapasitas yang digunakan mulai dari 8 Mbps (4x2 Mbps) sampai ratusan Mbps. Tidak semua kapasitas yang terpasang digunakan optimal oleh operator, ada sisa kapasitas yang tidak/belum terpakai. Ada yang digunakan sebagai spare saja apabila terjadi gangguan pada multiplexer-nya. Bahkan kadang, digunakan sebagai repeater untuk lokasi menara yang letaknya berdekatan.
Kompensasi penggunaan radiolink sebagai akses internet bagi sekolah yang seharusnya bisa dirundingkan antara operator dengan pihak sekolah/kampus. Beberapa operator besar mempunyai produk ISP (internet service provider), produk ISP operator ini dapat digandeng dengan radiolink yang telah dibangun di lokasi sekolah sebagai sarana akses internet broadband sebagai kompensasi yang berkualitas dibanding hanya kompensasi materi saja. Ini salahsatu solusi untuk mengurangi jurang teknologi dengan memanfaatkan fasilitas yang dimiliki oleh operator di lokasi menara BTS itu. Contoh di atas hanya salahsatu benefit yang bisa dimanfaatkan, selain benefit dengan skema bisnis yang lain yang jauh menguntungkan kedua belah pihak.

KERUGIAN
Perangkat telekomunikasi seluler (BTS/BSC) yang terpasang di menara dilokasi kampus/sekolah/gedung umumnya dilengkapi sistem instalasi listrik yang sangat baik dan sistem proteksi yang handal. Kehandalan sistem proteksi yang baik digunakan untuk melidungi perangkat BTS, BSC, microwave dan sistem catudaya dari hantaman petir baik secara langsung dan tidak langsung. Perangkat BTS ini benar-benar harus terlindung juga dari panas, oleh karena itu suhu radioroom terjaga pada suhu 22o atau kurang. Radioroom dilengkapi sistem pentanahan (grounding system) yang terintegrasi dengan baik antara satu perangkat dengan yang lain.
Namun instalasi listrik tuan rumah (tempat yang punya lahan/gedung) belum tentu dilengkapi sistem proteksi yang baik dengan instalasi listrik yang bagus. Pengaruh induksi petir yang dihantarkan oleh menara ke sistem instalasi tuan rumah akan menghancurkan perangkat listrik yang dimilikinya apabila sistem proteksi yang ada tidak ada/buruk atau tidak terintegrasi dengan sistem proteksi yang dimiliki menara operator. Integrasi sistem pentanahan antara menara operator dengan punya tuan rumah harus dilakukan untuk mengeliminir perbedaan impedansi melalui busbar grounding sehingga perbedaan potensial dapat diminimalkan. Perlu diingat bahwa arus listrik mengalir karena ada perbedaan impedansi sistem. Perangkat listrik/elektronik memiliki spesifikasi yang berbeda, ada yang sangat sensitif terhadap spike tegangan/arus, seperti misalnya komputer, modem, PABX, pesawat telepon, hub/switch dll. Coba bayangkan berapa perangkat elektronik yang rusak hanya gara-gara sistem proteksi yang amburadul.

Jumat, 14 Desember 2007

Sering Keliru

Namaku mungkin nama yang susah dibaca, diucapkan dan sekaligus ditulis.
Sering orang salah baca...
dan lebih sering orang salah nulisnya juga...
saya hanya bisa tersenyum mendengar orang keliru mengucapkannya
trus saya mo gimana lagi...
Saya mesti menunjukkan KTP atau kartu nama dahulu untuk membetulkan tulisan namaku yang salah itu...
Apalagi namaku banyak huruf S lagi
...dan lagi jarang ada nama Sis berdiri sendiri seperti layaknya nama yang lain Siswanto, Siswo, Wasis...dll
Ini beberapa kemungkinan yang sering terjadi salah penulisan namaku:
  1. Sis Soesetiyo
  2. Sis Susetiyo
  3. Sis Susetyo
  4. Sis Soesetyo
  5. Sisoesetiyo
  6. Sisusetyo
Semuanya itu menjadikanku bisa lebih bersyukur, karena orang mudah memberi tetenger kepadaku..

SNNS v4.2/JavaNNS v1.1 : Free/Opensource Software Simulator Alternatif untuk Jaringan Syaraf Tiruan

Oleh: Sis Soesetijo

Abstrack

Free/Open-source software usage in GNU/Linux Operating System have been unpopular at the campus especially lecturers and students who always used certain software in proprietary OS for performing their activities. Due to that, this paper present the implementation of Neural Network Simulators in GNU/Linux with Mandriva Distribution kernel 2.6.22. Neural Network (NN) Simulators used is SNNSv4.2 and JavaNNSv1.1. These presentation consist of packet description, configuration and capability testing by case study. The case study comprise learning process and validation process of WLAN received signal level. The result is SNNSv4.2/JavaNNSv1.1 have some great features which suit for beginner or even advanced student to know and understand what Neural Network is. Furthermore, some features like XGUI which wasn't existed in Neural Network Proprietary Software. However, These Simulators have some disadvantage such as no input normalization function .

Keywords: NN, FOSS, SNNSv4.2/JavaNNSv1.1, GNU/Linux
(Full Paper telah dipublikasi di Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Nopember 2007)

Iklan Seluler : menanam tanpa merawat ..?

Oleh: Sis Soesetijo

Kita sering melihat iklan seluler baik di media cetak maupun media elektronik. Ukuran iklan di media cetak kadang satu halaman penuh berwarna dan durasi iklan di radio dan TV cukup lama. Bahkan akhir-akhir ini cenderung mendominasi pasar iklan. Isi pesan yang disampaikannya bisa berupa informasi layanan, fitur baru, info tarif, SMS murah maupun iklan balasan dari operator lain. Iklan balasan ini memuat informasi balasan yang telah disampaikan oleh kompetitor dalam iklan sebelumnya dengan menyebutnya dengan istilah tertentu yang menjadi ikonnya. Iklan balasan ini berisi informasi tarif pulsa operator yang lebih murah dari yang lain. Bahkan ada iklan yang cenderung memojokkan salahsatu kompetitornya. Awalnya informasi iklan ini dapat memberi pengetahuan tentang layanan, coverage dan produk yang dimiliki oleh operator seluler sehingga calon pengguna dapat memilih operator sesuai kebutuhannya. Namun sekarang sudah beralih ke persaingan yang tidak sehat dan bahkan cenderung menjebak pelanggannya. Segala cara diupayakan oleh operator untuk menjual layanan dan produknya agar kartu SIM atau voucher pulsa isi ulang terjual sebanyak-banyaknya. Namun satu hal yang perlu dicermati implikasi dari iklan tersebut adalah jumlah kartu SIM hangus menjadi meningkat akibat pelanggan tidak loyal terhadap satu operator saja, mereka lebih tertarik pada tarif pulsa yang terendah. Pelanggan akan lebih rela untuk mengorbankan dengan mengganti nomor ponselnya untuk mengejar ongkos pulsa yang rendah tersebut. Bahkan dengan membeli kartu SIM baru, pulsa bisa jauh lebih murah daripada membeli voucher pulsa isi ulang ! Terus di manakah loyalitas pelanggannya ? Apakah memang hal ini yang diinginkan oleh operator ?

Teledensitas Telepon Seluler
Sampai saat ini jumlah pelanggan seluler GSM dan CDMA sekitar 75 juta pelanggan dengan dominasi pelanggan ada di GSM. Dominasi di teknologi GSM karena teknologi GSM merupakan teknologi komunikasi digital yang muncul pertama kali di Indonesia dan sukses dengan layanan SMS-nya. Potensi pelanggan seluler sekitar 100 juta dari 220 juta penduduk Indonesia. Sisa 25 juta ini diperebutkan oleh banyak operator seluler baik operator incumbent (lama) maupun operator baru. Satu hal yang perlu diingat bahwa jumlah pelanggan 75 juta tersebut bukanlah jumlah sesungguhnya yang aktif digunakan pelanggan, namun lebih cenderung ke jumlah kartu SIM yang terjual dan telah teraktivasi sebelumnya. Untuk mencari jumlah sesungguhnya bukan merupakan pekerjaan mudah dan singkat bagi operator.
Dari 75 juta tersebut, tidak lebih dari 10% adalah pelanggan pasca bayar yang jelas identitas dan loyalitasnya. Karena identitas (asli) pelanggan pasca bayar terdaftar lengkap di pihak operator, sehingga mereka akan mempertahankan nomornya lebih lama daripada pelanggan prabayar. Dengan jumlah pelanggan itu berarti tingkat kepadatan telepon seluler (teledensitas) sekitar 30%, artinya dari 10 orang penduduk Indonesia terdapat 3 orang yang memiliki nomor ponsel. Kalau kita pikir sederhana saja, di tempat-tempat keramaian seperti terminal atau mal, hampir setiap orang pasti memiliki ponsel ! Pas banget dengan iklan dari salahsatu operator, “hari gini ngga punya ponsel” ! Namun teledensitas 30% itu masih di bawah Malaysia dan Singapura. Akibat rendahnya angka teledensitas ini, banyak operator asing menaruh minat membeli saham operator-operator seluler yang ada di Indonesia. Selanjutnya dapat kita tebak bersama, para operator akan mendapat dana segar untuk giat beriklan untuk mencari “pelanggan” sebanyak-banyaknya.
Operator seluler yang baru berdiri akan menawarkan tarif pulsa yang jauh lebih rendah dari operator incumbent. Hal ini dilakukan karena mereka belum memiliki jaringan BTS (pemancar dan penerima) yang banyak sehingga coverage-nya masih terbatas. Kelemahan inilah yang “ditutupi” dengan menjual pulsa murah antar pelanggannya. Mereka membutuhkan waktu tidak singkat dan usaha yang keras untuk dapat menyaingi coverage operator seluler incumbent. Dari iklan media, paling tidak ada dua operator seluler baru yang gencar mempromosikan produknya. Satu operator GSM dan yang lain operator CDMA dengan coverage nasional.
Dengan bermunculan operator baru, apakah teledensitas menjadi meningkat ? Berdasarkan karakter pelanggan pemula, menjadi sulit mengharapkan peningkatan drastis. Pelanggan akan lebih senang menikmati persaingan tarif pulsa dengan berpindah-pindah ke operator lain yang menawarkan harga murah pada pulsa isi ulangnya . Pelanggan jenis ini biasanya didominasi kalangan pelajar/mahasiswa dan pekerja informal, jumlahnya diperkirakan lebih dari 50% pelanggan prabayar.

ARPU
ARPU merupakan kependekan dari Average Revenue Per User, pendapatan rata-rata operator yang diperoleh dari setiap pelanggannya perbulan. Akibat iklan yang gencar, angka “pelanggan” melambung dan nilai ARPU menurun. Bahkan dari informasi di media, nilai ARPU operator di bawah nilai 100 ribu rupiah. Pihak operator menganut prinsip dagang sederhana, lebih baik mendapat laba kecil dari tiap pelanggan (ARPU) namun jumlah penjualan meningkat (baik penjualan kartu SIM baru maupun voucher pulsa isi ulang).
Sekarang menjadi cukup jelas bahwa peningkatan jumlah iklan seluler terutama di layar kaca menjadi andalan operator untuk mendongkrak penjualan. Walau kualitas layanan mereka masih terbatas. Dengan tingkat pemahaman pelanggan pemula yang masih cukup rendah tentang product knowledge operator, iklan seluler akan memanfaatkan hal tersebut untuk menggembar-gemborkan info tarif pulsa daripada kualitas layanan. Seperti kita lihat sekarang, banyak orang merasa terjebak dengan iklan mereka. Banyak komplin muncul di surat pembaca media cetak bahwa mereka merasa tertipu dan terjebak dengan iklan seluler.

Pilih mana ?
Kualitas layanan adalah hal yang utama. Layanan bagus dengan tarif pulsa yang kompetitif dapat menjadi daya tarik bagi calon pelanggan. Dengan catatan bahwa kita benar-benar serius membutuhkan ponsel untuk berkomunikasi bukan sekedar memilikinya saja. Untuk menguji kualitas layanan, kita bisa mencoba/merasakan sendiri atau bertanya pada orang lain yang pernah menggunakan layanan salahsatu operator. Layanan operator akan teruji baik ketika ada momen/kejadian/musibah besar (force mayeour) melanda di suatu daerah. Katakanlah momen lebaran di Surabaya, orang pasti akan menggunakan ponselnya untuk menghubungi sanak saudaranya, ketika kondisi ini trafik telepon akan mencapai puncaknya. Orang akan sulit melakukan komunikasi atau mengirim SMS disebabkan karena peningkatan jumlah panggilan atau trafik SMS yang terjadi bersamaan. Di sinilah layanan operator bisa dibuktikan, hanya operator dengan kapasitas jaringan seluler yang bagus saja yang dapat melayaninya. Kebanyakan operator incumbent memiliki kapasitas panggilan (trafik telepon) yang nyaris sama, namun dengan jumlah pelanggan yang berbeda-beda. Contoh idealnya dengan kapasitas layanan sentral pelanggan sebanyak 20 juta, harusnya diisi jumlah pelanggan tidak lebih dari 80%-nya. Silakan pilih, pulsa murah, mutu layanan atau korban iklan ? /sis