Senin, 17 Desember 2007
BELANTARA MENARA DI KAMPUS: Manfaat dan Kerugian
Oleh: Sis Soesetijo
Peningkatan jumlah pelanggan ponsel baik sistem GSM maupun CDMA membuat para operator seluler harus meningkatkan layanan dengan baik. Kalau tidak, pelanggannya akan berpindah ke operator kompetitor. Walau kadang-kadang, alasan perpindahan itu bisa susah masuk di akal, di luar faktor layanan itu. Salahsatu peningkatan layanan adalah membuka, menambah dan memperluas coverage area dengan mendirikan menara-menara telekomunikasi sebagai tempat untuk pemasangan perangkat BTS/BSC. Perangkat BTS ini yang langsung berinteraksi dengan ponsel pelanggan. Makin dekat dengan menara/perangkat BTS, semakin kuat sinyal ponsel pelanggan.
Pada kolom berita detikInet dengan judul BTS kokoh berdiri, siswa-siswi tetap gaptek, tulisan tersebut menuturkan bahwa di daerah Deli Serdang, Medan, penempatan menara dengan perangkat BTS di sebuah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) samasekali tidak memberikan manfaat pada siswa-siswa. Mereka tetap saja gaptek (gagap teknologi), fasilitas komputerpun mereka ngga punya apalagi akses internet. Bahkan menara BTS pun, mereka pasti ngga tahu apa itu.
Penulis melihat kondisi ini begitu ironis, benarkah seperti ini : kemajuan teknologi telekomunikasi tidak sertamerta memberi manfaat positif buat lingkungan sekitarnya. Ada kesan baik operator maupun sekolah, tidak mengetahui betul jeroan teknologi ini minimal manfaatnya bagi mereka. Pihak sekolah dan operator hanya deal membangun menara BTS ini untuk manfaat jangka pendek. Pihak sekolah mungkin hanya menerima manfaat materi/finansial dari perjanjian penempatan menara BTS ini di lokasi sekolah dari pihak operator. Pun pihak operator tidak menawarkan alternatif kompensasi atas perjanjian kerjasama ini.
DAERAH CAKUPAN (COVERAGE AREA)
Menambah atau memperluar daerah cakupan (coverage area) merupakan obat mujarab bagi operator untuk meningkatkan layanan. Sebelumnya di daerah itu sinyalnya masih lemah (bahkan tidak
ada sama sekali), dengan dibangunnya BTS baru, sinyal menjadi lebih kuat. Dengan daerah cakupan yang baru, operator mendapatkan pelanggan baru. Salahsatu operator telah mengiklankan diri bahwa daerah cakupannya sudah sampai pada tingkat kecamatan. Ini berarti (kalau memang benar) pada setiap kecamatan, operator itu mendirikan menara pemancar/penerima (BTS).
Peningkatan daerah layanan dengan menambah atau memperluas area cakupan berarti juga mendirikan menara untuk dipasangi perangkat BTS. Pendirian menara memang harus dilakukan karena untuk menjadikan daerah tersebut menjadi daerah cakupan operator seluler membutuhkan lokasi tinggi tertentu agar BTS mampu mentransmisikan gelombang radionya dengan baik sehingga antara pelanggan ponsel dengan perangkat BTS tidak banyak mengalami gangguan fading. Pelanggan akan merasakan sinyal ponselnya lebih kuat.
Penggantian menara dengan gedung-gedung tinggi di daerah perkotaan untuk siap dan layak dibangun dan ditempati perangkat BTS tidak selalu memudahkan para operator. Malahan kadang memperbanyak kendala-kendala non-teknis. Umumnya operator cenderung menggunakan gedung tinggi sebagai tempat mendirikan menara sehingga ketinggian menara yang akan dibangun bisa berkurang. Coba kita lihat 3 buah menara di gedung fakultas psikologi Ubaya Tenggilis. Mereka mendirikan menara setinggi antara 10-15 meter diatas gedung PE dan PD berlantai 4. Menara sebanyak 3 buah berarti juga 3 operator seluler berada pada daerah cakupan itu. Perhatikan gambar 1 dimana 3 buah menara itu berada. Apabila kita perhatikan juga (tidak nampak di gambar), di sisi utara kampus Ubaya terdapat 2 menara milik 2 operator yang berberbeda dengan jarak tak lebih dari 20 meter. Apabila kita perhatikan secara seksama dari kelima menara itu, ada satu menara yang belum terpakai sampai detik ini dan hanya ada satu menara yang dipakai secara bersama-sama walau masih dalam lingkup payung operator yang sama. Yang dimaksud dipakai bersama-sama di sini adalah dengan menggunakan menara yang sama, mereka menempatkan perangkat BTS (termasuk antena) yang berbeda. Untuk daerah cakupan sectorized, ada 3 antena yang dipasang di atas menara itu untuk mencakup 3 sektor. Operator menempatkan 3 BTS untuk 3 antena pada ketinggian yang sama. Sisa ruang pada menara bisa dimanfaatkan oleh operator yang lain, atau operator yang sama dengan teknologi yang berbeda/sama dan frekuensi yang berbeda pula tentunya.
Pemakaian bersama-sama ini juga harus mempertimbangkan persyaratan teknis tergantung pada perangkat yang digunakan, apakah dari vendor yang sama atau tidak, karena masing-masing vendor BTS mempunyai spesifikasi yang unik. Itu belum termasuk penempatan antena pada tiap-tiap operator, apakah menempati ketinggian yang sama/tidak dan pada posisi sektor yang sama/tidak. Penempatan yang salah bukan malah memperluas coverage area, bisa-bisa mengacaukan semua sinyal pada daerah itu.
MANFAAT
Mereka membangun BTS-BTS ini di dalam kampus, karena terdapat pelanggan yang sangat potensial, Ubaya memiliki ribuan mahasiswa, dimana (hampir) setiap mahasiswa pasti memiliki ponsel. Jadi operator tidak perlu berpikir panjang lagi untuk menempatkan menaranya di dalam lokasi atau dekat lokasi kampus. Prospek sebagai mesin uang bagi operator sudah nampak di depan mata.
Operator biasanya menawarkan kompensasi materi sebagai ongkos pengganti tempat untuk mendirikan menara itu pada jangka waktu tertentu. Pihak sekolah/kampus pasti setuju dengan skema kompensasi itu, mungkin yang agak alot barangkali besaran kompensasinya. Hal ini lumrah terjadi dimana-mana bukan hanya pihak sekolah sebagai pemilik lahan, namun juga pemilik lahan atau gedung yang tempatnya dijadikan lahan penempatan menara operator. Operator hanya menawarkan kompensasi seperti itu dan tidak ada alternatif lainnya.
Benarkan, kita tidak mendapatkan manfaat apa-apa selain kompensasi materi...?
Salahsatu yang bisa kita manfaatkan adalah penggunaan radiolink sebagai alternatif akses internet broadband. Operator menggunakan radiolink gelombangmikro sebagai penghubung antara BTS dengan BSC/MSC. Gelombang mikro yang digunakan operator bervariasi dari frekuensi 4 Ghz sampai 23 Ghz. Kapasitas yang digunakan mulai dari 8 Mbps (4x2 Mbps) sampai ratusan Mbps. Tidak semua kapasitas yang terpasang digunakan optimal oleh operator, ada sisa kapasitas yang tidak/belum terpakai. Ada yang digunakan sebagai spare saja apabila terjadi gangguan pada multiplexer-nya. Bahkan kadang, digunakan sebagai repeater untuk lokasi menara yang letaknya berdekatan.
Kompensasi penggunaan radiolink sebagai akses internet bagi sekolah yang seharusnya bisa dirundingkan antara operator dengan pihak sekolah/kampus. Beberapa operator besar mempunyai produk ISP (internet service provider), produk ISP operator ini dapat digandeng dengan radiolink yang telah dibangun di lokasi sekolah sebagai sarana akses internet broadband sebagai kompensasi yang berkualitas dibanding hanya kompensasi materi saja. Ini salahsatu solusi untuk mengurangi jurang teknologi dengan memanfaatkan fasilitas yang dimiliki oleh operator di lokasi menara BTS itu. Contoh di atas hanya salahsatu benefit yang bisa dimanfaatkan, selain benefit dengan skema bisnis yang lain yang jauh menguntungkan kedua belah pihak.
KERUGIAN
Perangkat telekomunikasi seluler (BTS/BSC) yang terpasang di menara dilokasi kampus/sekolah/gedung umumnya dilengkapi sistem instalasi listrik yang sangat baik dan sistem proteksi yang handal. Kehandalan sistem proteksi yang baik digunakan untuk melidungi perangkat BTS, BSC, microwave dan sistem catudaya dari hantaman petir baik secara langsung dan tidak langsung. Perangkat BTS ini benar-benar harus terlindung juga dari panas, oleh karena itu suhu radioroom terjaga pada suhu 22o atau kurang. Radioroom dilengkapi sistem pentanahan (grounding system) yang terintegrasi dengan baik antara satu perangkat dengan yang lain.
Namun instalasi listrik tuan rumah (tempat yang punya lahan/gedung) belum tentu dilengkapi sistem proteksi yang baik dengan instalasi listrik yang bagus. Pengaruh induksi petir yang dihantarkan oleh menara ke sistem instalasi tuan rumah akan menghancurkan perangkat listrik yang dimilikinya apabila sistem proteksi yang ada tidak ada/buruk atau tidak terintegrasi dengan sistem proteksi yang dimiliki menara operator. Integrasi sistem pentanahan antara menara operator dengan punya tuan rumah harus dilakukan untuk mengeliminir perbedaan impedansi melalui busbar grounding sehingga perbedaan potensial dapat diminimalkan. Perlu diingat bahwa arus listrik mengalir karena ada perbedaan impedansi sistem. Perangkat listrik/elektronik memiliki spesifikasi yang berbeda, ada yang sangat sensitif terhadap spike tegangan/arus, seperti misalnya komputer, modem, PABX, pesawat telepon, hub/switch dll. Coba bayangkan berapa perangkat elektronik yang rusak hanya gara-gara sistem proteksi yang amburadul.
Jumat, 14 Desember 2007
Sering Keliru
Namaku mungkin nama yang susah dibaca, diucapkan dan sekaligus ditulis.
Sering orang salah baca...
dan lebih sering orang salah nulisnya juga...
saya hanya bisa tersenyum mendengar orang keliru mengucapkannya
trus saya mo gimana lagi...
Saya mesti menunjukkan KTP atau kartu nama dahulu untuk membetulkan tulisan namaku yang salah itu...
Apalagi namaku banyak huruf S lagi
...dan lagi jarang ada nama Sis berdiri sendiri seperti layaknya nama yang lain Siswanto, Siswo, Wasis...dll
Ini beberapa kemungkinan yang sering terjadi salah penulisan namaku:
Sering orang salah baca...
dan lebih sering orang salah nulisnya juga...
saya hanya bisa tersenyum mendengar orang keliru mengucapkannya
trus saya mo gimana lagi...
Saya mesti menunjukkan KTP atau kartu nama dahulu untuk membetulkan tulisan namaku yang salah itu...
Apalagi namaku banyak huruf S lagi
...dan lagi jarang ada nama Sis berdiri sendiri seperti layaknya nama yang lain Siswanto, Siswo, Wasis...dll
Ini beberapa kemungkinan yang sering terjadi salah penulisan namaku:
- Sis Soesetiyo
- Sis Susetiyo
- Sis Susetyo
- Sis Soesetyo
- Sisoesetiyo
- Sisusetyo
SNNS v4.2/JavaNNS v1.1 : Free/Opensource Software Simulator Alternatif untuk Jaringan Syaraf Tiruan
Oleh: Sis Soesetijo
Abstrack
Keywords: NN, FOSS, SNNSv4.2/JavaNNSv1.1, GNU/Linux
(Full Paper telah dipublikasi di Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Nopember 2007)
Abstrack
Free/Open-source software usage in GNU/Linux Operating System have been unpopular at the campus especially lecturers and students who always used certain software in proprietary OS for performing their activities. Due to that, this paper present the implementation of Neural Network Simulators in GNU/Linux with Mandriva Distribution kernel 2.6.22. Neural Network (NN) Simulators used is SNNSv4.2 and JavaNNSv1.1. These presentation consist of packet description, configuration and capability testing by case study. The case study comprise learning process and validation process of WLAN received signal level. The result is SNNSv4.2/JavaNNSv1.1 have some great features which suit for beginner or even advanced student to know and understand what Neural Network is. Furthermore, some features like XGUI which wasn't existed in Neural Network Proprietary Software. However, These Simulators have some disadvantage such as no input normalization function .
Keywords: NN, FOSS, SNNSv4.2/JavaNNSv1.1, GNU/Linux
(Full Paper telah dipublikasi di Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Nopember 2007)
Iklan Seluler : menanam tanpa merawat ..?
Oleh: Sis Soesetijo
Kita sering melihat iklan seluler baik di media cetak maupun media elektronik. Ukuran iklan di media cetak kadang satu halaman penuh berwarna dan durasi iklan di radio dan TV cukup lama. Bahkan akhir-akhir ini cenderung mendominasi pasar iklan. Isi pesan yang disampaikannya bisa berupa informasi layanan, fitur baru, info tarif, SMS murah maupun iklan balasan dari operator lain. Iklan balasan ini memuat informasi balasan yang telah disampaikan oleh kompetitor dalam iklan sebelumnya dengan menyebutnya dengan istilah tertentu yang menjadi ikonnya. Iklan balasan ini berisi informasi tarif pulsa operator yang lebih murah dari yang lain. Bahkan ada iklan yang cenderung memojokkan salahsatu kompetitornya. Awalnya informasi iklan ini dapat memberi pengetahuan tentang layanan, coverage dan produk yang dimiliki oleh operator seluler sehingga calon pengguna dapat memilih operator sesuai kebutuhannya. Namun sekarang sudah beralih ke persaingan yang tidak sehat dan bahkan cenderung menjebak pelanggannya. Segala cara diupayakan oleh operator untuk menjual layanan dan produknya agar kartu SIM atau voucher pulsa isi ulang terjual sebanyak-banyaknya. Namun satu hal yang perlu dicermati implikasi dari iklan tersebut adalah jumlah kartu SIM hangus menjadi meningkat akibat pelanggan tidak loyal terhadap satu operator saja, mereka lebih tertarik pada tarif pulsa yang terendah. Pelanggan akan lebih rela untuk mengorbankan dengan mengganti nomor ponselnya untuk mengejar ongkos pulsa yang rendah tersebut. Bahkan dengan membeli kartu SIM baru, pulsa bisa jauh lebih murah daripada membeli voucher pulsa isi ulang ! Terus di manakah loyalitas pelanggannya ? Apakah memang hal ini yang diinginkan oleh operator ?
Teledensitas Telepon Seluler
Sampai saat ini jumlah pelanggan seluler GSM dan CDMA sekitar 75 juta pelanggan dengan dominasi pelanggan ada di GSM. Dominasi di teknologi GSM karena teknologi GSM merupakan teknologi komunikasi digital yang muncul pertama kali di Indonesia dan sukses dengan layanan SMS-nya. Potensi pelanggan seluler sekitar 100 juta dari 220 juta penduduk Indonesia. Sisa 25 juta ini diperebutkan oleh banyak operator seluler baik operator incumbent (lama) maupun operator baru. Satu hal yang perlu diingat bahwa jumlah pelanggan 75 juta tersebut bukanlah jumlah sesungguhnya yang aktif digunakan pelanggan, namun lebih cenderung ke jumlah kartu SIM yang terjual dan telah teraktivasi sebelumnya. Untuk mencari jumlah sesungguhnya bukan merupakan pekerjaan mudah dan singkat bagi operator.
Dari 75 juta tersebut, tidak lebih dari 10% adalah pelanggan pasca bayar yang jelas identitas dan loyalitasnya. Karena identitas (asli) pelanggan pasca bayar terdaftar lengkap di pihak operator, sehingga mereka akan mempertahankan nomornya lebih lama daripada pelanggan prabayar. Dengan jumlah pelanggan itu berarti tingkat kepadatan telepon seluler (teledensitas) sekitar 30%, artinya dari 10 orang penduduk Indonesia terdapat 3 orang yang memiliki nomor ponsel. Kalau kita pikir sederhana saja, di tempat-tempat keramaian seperti terminal atau mal, hampir setiap orang pasti memiliki ponsel ! Pas banget dengan iklan dari salahsatu operator, “hari gini ngga punya ponsel” ! Namun teledensitas 30% itu masih di bawah Malaysia dan Singapura. Akibat rendahnya angka teledensitas ini, banyak operator asing menaruh minat membeli saham operator-operator seluler yang ada di Indonesia. Selanjutnya dapat kita tebak bersama, para operator akan mendapat dana segar untuk giat beriklan untuk mencari “pelanggan” sebanyak-banyaknya.
Operator seluler yang baru berdiri akan menawarkan tarif pulsa yang jauh lebih rendah dari operator incumbent. Hal ini dilakukan karena mereka belum memiliki jaringan BTS (pemancar dan penerima) yang banyak sehingga coverage-nya masih terbatas. Kelemahan inilah yang “ditutupi” dengan menjual pulsa murah antar pelanggannya. Mereka membutuhkan waktu tidak singkat dan usaha yang keras untuk dapat menyaingi coverage operator seluler incumbent. Dari iklan media, paling tidak ada dua operator seluler baru yang gencar mempromosikan produknya. Satu operator GSM dan yang lain operator CDMA dengan coverage nasional.
Dengan bermunculan operator baru, apakah teledensitas menjadi meningkat ? Berdasarkan karakter pelanggan pemula, menjadi sulit mengharapkan peningkatan drastis. Pelanggan akan lebih senang menikmati persaingan tarif pulsa dengan berpindah-pindah ke operator lain yang menawarkan harga murah pada pulsa isi ulangnya . Pelanggan jenis ini biasanya didominasi kalangan pelajar/mahasiswa dan pekerja informal, jumlahnya diperkirakan lebih dari 50% pelanggan prabayar.
ARPU
ARPU merupakan kependekan dari Average Revenue Per User, pendapatan rata-rata operator yang diperoleh dari setiap pelanggannya perbulan. Akibat iklan yang gencar, angka “pelanggan” melambung dan nilai ARPU menurun. Bahkan dari informasi di media, nilai ARPU operator di bawah nilai 100 ribu rupiah. Pihak operator menganut prinsip dagang sederhana, lebih baik mendapat laba kecil dari tiap pelanggan (ARPU) namun jumlah penjualan meningkat (baik penjualan kartu SIM baru maupun voucher pulsa isi ulang).
Sekarang menjadi cukup jelas bahwa peningkatan jumlah iklan seluler terutama di layar kaca menjadi andalan operator untuk mendongkrak penjualan. Walau kualitas layanan mereka masih terbatas. Dengan tingkat pemahaman pelanggan pemula yang masih cukup rendah tentang product knowledge operator, iklan seluler akan memanfaatkan hal tersebut untuk menggembar-gemborkan info tarif pulsa daripada kualitas layanan. Seperti kita lihat sekarang, banyak orang merasa terjebak dengan iklan mereka. Banyak komplin muncul di surat pembaca media cetak bahwa mereka merasa tertipu dan terjebak dengan iklan seluler.
Pilih mana ?
Kualitas layanan adalah hal yang utama. Layanan bagus dengan tarif pulsa yang kompetitif dapat menjadi daya tarik bagi calon pelanggan. Dengan catatan bahwa kita benar-benar serius membutuhkan ponsel untuk berkomunikasi bukan sekedar memilikinya saja. Untuk menguji kualitas layanan, kita bisa mencoba/merasakan sendiri atau bertanya pada orang lain yang pernah menggunakan layanan salahsatu operator. Layanan operator akan teruji baik ketika ada momen/kejadian/musibah besar (force mayeour) melanda di suatu daerah. Katakanlah momen lebaran di Surabaya, orang pasti akan menggunakan ponselnya untuk menghubungi sanak saudaranya, ketika kondisi ini trafik telepon akan mencapai puncaknya. Orang akan sulit melakukan komunikasi atau mengirim SMS disebabkan karena peningkatan jumlah panggilan atau trafik SMS yang terjadi bersamaan. Di sinilah layanan operator bisa dibuktikan, hanya operator dengan kapasitas jaringan seluler yang bagus saja yang dapat melayaninya. Kebanyakan operator incumbent memiliki kapasitas panggilan (trafik telepon) yang nyaris sama, namun dengan jumlah pelanggan yang berbeda-beda. Contoh idealnya dengan kapasitas layanan sentral pelanggan sebanyak 20 juta, harusnya diisi jumlah pelanggan tidak lebih dari 80%-nya. Silakan pilih, pulsa murah, mutu layanan atau korban iklan ? /sis
Kita sering melihat iklan seluler baik di media cetak maupun media elektronik. Ukuran iklan di media cetak kadang satu halaman penuh berwarna dan durasi iklan di radio dan TV cukup lama. Bahkan akhir-akhir ini cenderung mendominasi pasar iklan. Isi pesan yang disampaikannya bisa berupa informasi layanan, fitur baru, info tarif, SMS murah maupun iklan balasan dari operator lain. Iklan balasan ini memuat informasi balasan yang telah disampaikan oleh kompetitor dalam iklan sebelumnya dengan menyebutnya dengan istilah tertentu yang menjadi ikonnya. Iklan balasan ini berisi informasi tarif pulsa operator yang lebih murah dari yang lain. Bahkan ada iklan yang cenderung memojokkan salahsatu kompetitornya. Awalnya informasi iklan ini dapat memberi pengetahuan tentang layanan, coverage dan produk yang dimiliki oleh operator seluler sehingga calon pengguna dapat memilih operator sesuai kebutuhannya. Namun sekarang sudah beralih ke persaingan yang tidak sehat dan bahkan cenderung menjebak pelanggannya. Segala cara diupayakan oleh operator untuk menjual layanan dan produknya agar kartu SIM atau voucher pulsa isi ulang terjual sebanyak-banyaknya. Namun satu hal yang perlu dicermati implikasi dari iklan tersebut adalah jumlah kartu SIM hangus menjadi meningkat akibat pelanggan tidak loyal terhadap satu operator saja, mereka lebih tertarik pada tarif pulsa yang terendah. Pelanggan akan lebih rela untuk mengorbankan dengan mengganti nomor ponselnya untuk mengejar ongkos pulsa yang rendah tersebut. Bahkan dengan membeli kartu SIM baru, pulsa bisa jauh lebih murah daripada membeli voucher pulsa isi ulang ! Terus di manakah loyalitas pelanggannya ? Apakah memang hal ini yang diinginkan oleh operator ?
Teledensitas Telepon Seluler
Sampai saat ini jumlah pelanggan seluler GSM dan CDMA sekitar 75 juta pelanggan dengan dominasi pelanggan ada di GSM. Dominasi di teknologi GSM karena teknologi GSM merupakan teknologi komunikasi digital yang muncul pertama kali di Indonesia dan sukses dengan layanan SMS-nya. Potensi pelanggan seluler sekitar 100 juta dari 220 juta penduduk Indonesia. Sisa 25 juta ini diperebutkan oleh banyak operator seluler baik operator incumbent (lama) maupun operator baru. Satu hal yang perlu diingat bahwa jumlah pelanggan 75 juta tersebut bukanlah jumlah sesungguhnya yang aktif digunakan pelanggan, namun lebih cenderung ke jumlah kartu SIM yang terjual dan telah teraktivasi sebelumnya. Untuk mencari jumlah sesungguhnya bukan merupakan pekerjaan mudah dan singkat bagi operator.
Dari 75 juta tersebut, tidak lebih dari 10% adalah pelanggan pasca bayar yang jelas identitas dan loyalitasnya. Karena identitas (asli) pelanggan pasca bayar terdaftar lengkap di pihak operator, sehingga mereka akan mempertahankan nomornya lebih lama daripada pelanggan prabayar. Dengan jumlah pelanggan itu berarti tingkat kepadatan telepon seluler (teledensitas) sekitar 30%, artinya dari 10 orang penduduk Indonesia terdapat 3 orang yang memiliki nomor ponsel. Kalau kita pikir sederhana saja, di tempat-tempat keramaian seperti terminal atau mal, hampir setiap orang pasti memiliki ponsel ! Pas banget dengan iklan dari salahsatu operator, “hari gini ngga punya ponsel” ! Namun teledensitas 30% itu masih di bawah Malaysia dan Singapura. Akibat rendahnya angka teledensitas ini, banyak operator asing menaruh minat membeli saham operator-operator seluler yang ada di Indonesia. Selanjutnya dapat kita tebak bersama, para operator akan mendapat dana segar untuk giat beriklan untuk mencari “pelanggan” sebanyak-banyaknya.
Operator seluler yang baru berdiri akan menawarkan tarif pulsa yang jauh lebih rendah dari operator incumbent. Hal ini dilakukan karena mereka belum memiliki jaringan BTS (pemancar dan penerima) yang banyak sehingga coverage-nya masih terbatas. Kelemahan inilah yang “ditutupi” dengan menjual pulsa murah antar pelanggannya. Mereka membutuhkan waktu tidak singkat dan usaha yang keras untuk dapat menyaingi coverage operator seluler incumbent. Dari iklan media, paling tidak ada dua operator seluler baru yang gencar mempromosikan produknya. Satu operator GSM dan yang lain operator CDMA dengan coverage nasional.
Dengan bermunculan operator baru, apakah teledensitas menjadi meningkat ? Berdasarkan karakter pelanggan pemula, menjadi sulit mengharapkan peningkatan drastis. Pelanggan akan lebih senang menikmati persaingan tarif pulsa dengan berpindah-pindah ke operator lain yang menawarkan harga murah pada pulsa isi ulangnya . Pelanggan jenis ini biasanya didominasi kalangan pelajar/mahasiswa dan pekerja informal, jumlahnya diperkirakan lebih dari 50% pelanggan prabayar.
ARPU
ARPU merupakan kependekan dari Average Revenue Per User, pendapatan rata-rata operator yang diperoleh dari setiap pelanggannya perbulan. Akibat iklan yang gencar, angka “pelanggan” melambung dan nilai ARPU menurun. Bahkan dari informasi di media, nilai ARPU operator di bawah nilai 100 ribu rupiah. Pihak operator menganut prinsip dagang sederhana, lebih baik mendapat laba kecil dari tiap pelanggan (ARPU) namun jumlah penjualan meningkat (baik penjualan kartu SIM baru maupun voucher pulsa isi ulang).
Sekarang menjadi cukup jelas bahwa peningkatan jumlah iklan seluler terutama di layar kaca menjadi andalan operator untuk mendongkrak penjualan. Walau kualitas layanan mereka masih terbatas. Dengan tingkat pemahaman pelanggan pemula yang masih cukup rendah tentang product knowledge operator, iklan seluler akan memanfaatkan hal tersebut untuk menggembar-gemborkan info tarif pulsa daripada kualitas layanan. Seperti kita lihat sekarang, banyak orang merasa terjebak dengan iklan mereka. Banyak komplin muncul di surat pembaca media cetak bahwa mereka merasa tertipu dan terjebak dengan iklan seluler.
Pilih mana ?
Kualitas layanan adalah hal yang utama. Layanan bagus dengan tarif pulsa yang kompetitif dapat menjadi daya tarik bagi calon pelanggan. Dengan catatan bahwa kita benar-benar serius membutuhkan ponsel untuk berkomunikasi bukan sekedar memilikinya saja. Untuk menguji kualitas layanan, kita bisa mencoba/merasakan sendiri atau bertanya pada orang lain yang pernah menggunakan layanan salahsatu operator. Layanan operator akan teruji baik ketika ada momen/kejadian/musibah besar (force mayeour) melanda di suatu daerah. Katakanlah momen lebaran di Surabaya, orang pasti akan menggunakan ponselnya untuk menghubungi sanak saudaranya, ketika kondisi ini trafik telepon akan mencapai puncaknya. Orang akan sulit melakukan komunikasi atau mengirim SMS disebabkan karena peningkatan jumlah panggilan atau trafik SMS yang terjadi bersamaan. Di sinilah layanan operator bisa dibuktikan, hanya operator dengan kapasitas jaringan seluler yang bagus saja yang dapat melayaninya. Kebanyakan operator incumbent memiliki kapasitas panggilan (trafik telepon) yang nyaris sama, namun dengan jumlah pelanggan yang berbeda-beda. Contoh idealnya dengan kapasitas layanan sentral pelanggan sebanyak 20 juta, harusnya diisi jumlah pelanggan tidak lebih dari 80%-nya. Silakan pilih, pulsa murah, mutu layanan atau korban iklan ? /sis
Kamis, 13 Desember 2007
SMS Premium = SMS Sampah...?

Gambar 1. Jaringan Seluler dengan SMS Gateway
Oleh: Sis Soesetijo
Sering kita mendengar iklan TV berikut, ketik REG xxxx kirim ke nomor yyyy atau di ponsel tiba-tiba menerima sms yang isinya menawarkan produk atau jasa yang sedang dipromosikan oleh perusahaan tertentu. Perihal kedua, sebagian besar dari kita (mungkin) tidak merasa keberatan mendapatkan informasi melalui SMS ke ponsel walau informasi itu tidak ada hubungannya samasekali dengan diri kita.
SMS sebagai media promosi
Penelitian yang dilakukan sebuah lembaga dari Australia yang dipublikasikan di internet menyebutkan bahwa 94% SMS yang dikirim ke ponsel pelanggan pasti dibaca. Dari sini dapat terlihat bahwa SMS benar-benar merupakan media iklan dan promosi yang hebat dan langsung menusuk ke privasi pelanggan. Kemudian dari penelitian itu juga menyebutkan bahwa ada 27% pelanggan yang merespon balik informasi SMS itu. Gampangnya begini apabila suatu perusahaan mengirim iklan/promosi via SMS ke semua pelanggan operator ponsel maka perusahaan itu akan mendapatkan pelanggan yang tertarik dengannya adalah sekitar 25% di luar apakah produknya terjual atau tidak dan yang penting adalah perusahaan tersebut sudah sukses membangun knowledge ke pelanggan.
Gambaran di atas merupakan fasilitas SMS Broadcast yang ditawarkan oleh operator seluler ke pelanggan corporate. Lain hal dengan SMS Pull yang biasanya diikuti dengan proses registrasi dari pelanggan ke perusahaan penyedia content. Seperti bunyi iklan “ketik REG xxxx kirim ke nomor yyyy” yang hampir tiap hari muncul di layar kaca TV di rumah. Jadi sekali pelanggan terdaftar ( sudah mengirim REG xxxx) maka semua SMS akan dikirim (SMS Push) ke ponsel pelanggan secara tidak cuma-cuma. Pelanggan akan dikenai biaya Rp 2000,-/sms yang dikirim ke ponsel kita. Sangat berbeda dengan SMS Broadcast yang dituturkan di atas, pelanggan menerima informasi iklan/promosi itu secara gratis.
SMS Premium
Ada 3 jenis SMS yang telah dibicarakan yaitu SMS Broadcast, SMS Pull dan SMS Push, yang disebut dua terakhir ini bisa dikategorikan SMS Premium. Kenapa disebut SMS Premium ? Istilah Premium mengacu pada harga per SMS yang lebih mahal dari SMS normal yang hanya Rp 250,- - 350,-/sms. Ambil contoh SMS Premium yang mematok harga Rp 2000,-/sms , nilai sebesar itu bukan hanya dinikmati oleh operator seluler, pihak penyedia content-pun bisa menikmatinya bahkan nilai nominalnya lebih besar dibanding operatornya. Skema umum yang biasa dipakai sebagai acuan pembagian hasilnya adalah nilai Rp 2000,-/sms tersebut dikurangi biaya SMS normal Rp 350,-/sms, sisanya sebesar Rp 1650,- dibagi dengan pembagian 30% untuk operator seluler dan 70% untuk penyedia content. Dengan skema umum ini pihak penyedia content menerima bersih sebesar Rp 1150,- lebih besar dibanding perolehan operator sendiri. Jadi tidak mengherankan kalau semakin banyak penyedia content yang muncul menawarkan jasanya di layar kaca TV kita bahkan menggandeng para selebritis untuk bisa menarik pelanggan sebanyak mungkin. Bayangkan kalau ada 100.000 pemilik ponsel tertarik fitur ini, jadi ada pendapatan 100.000 dikalikan Rp 1150,- sebesar Rp 115.000.000,- !! Sangat fantastik sekali. Bagaimana kalau dengan 10 juta peminat....?
SMS Premium memang diarahkan oleh para content provider pada pengguna ponsel pemula baik mulai dari anak-anak sampai dewasa, kenapa pemula karena pengetahuan masih sangat terbatas tentang teknologi ini dan kegiatan merekapun masih berkutat pada ponselnya itu. Jadi masih merasakan “berbulan-madu” dengan ponselnya.
Teknologi SMS Pull/Push
Teknologi seluler sekarang baik GSM atau CDMA sudah bisa berharap pendapatan dari biaya SMS yang digunakan pelanggannya bahkan mampu menyumbangkan pendapatan 20% dari pendapatan selulernya. Operator selulerpun tidak tinggal diam untuk terus menggenjot penambahan jumlah pelanggan baru bahkan mereka terus berinovasi memanfaatkan teknologi yang telah dipunyainya dengan menambah fitur/fasilitas dengan cara menawarkan jasanya ini ke pihak ketiga (content provider). Pada teknologi SMS pun mereka menjual jasa koneksi SMS Gateway ke content provider sebagai penyedia aplikasi berbasis SMS (lihat gambar 1). Aplikasi SMS Push/Pull adalah contoh yang paling mudah. Operator hanya menyediakan fasilitas store-forward SMS dan nomor premium 4 digit yang kemudian diteruskan ke penyedia aplikasi.
Seperti terlihat pada gambar 1 berikut, dengan alur SMS sebagai berikut, pelanggan akan mengirim SMS ke nomor 4 digit yang telah disediakan oleh operator kemudian dalam orde sekian detik SMS akan diteruskan ke Web Server milik content provider dengan koneksi berbasis internet. Jadi perintah SMS yang diawali dengan perintah REG atau DAFTAR dan sejenisnya akan dibaca oleh software aplikasi SMS yang telah lebih dahulu disiapkan oleh perusahaan tersebut. Sekali perintah terbaca oleh software aplikasi maka data pelanggan (nomor ponsel) akan tersimpan permanen di database perusahaan content provider. Sekali SMS terkirim ke pelanggan, rupiah akan mengalir ke content provider dan operator. Jenis SMS apapun yang terkirim ke pelanggan tadi baik bermanfaat atau tidak akan mengurangi pulsa anda. Layaknya penyedot pulsa pelanggan dengan SMS. Sebetulnya kita bisa keluar dari content-provider dengan mengirim perintah UNREG, namun tetap saja tidak berpengaruh sama sekali. Kenapa hal ini bisa terjadi, pihak content-provider biasanya “memblok” perintah UNREG ini agar pelanggan tidak bisa keluar. Dalih umumnya kegagalan intekoneksi ke web server mereka.
Hindari Saja
Sebetulnya ada cara gampang untuk menghindari informasi sampah via SMS, berkirimlah SMS ke orang-orang yang anda kenal saja dan hindari merespon iklan-iklan yang sedang ditawarkan di media massa dengan basis SMS. Apapun bonus atau hadiah yang diiming-imingkan, karena hadiah itu berasal dari sebagian besar uang pelanggan yang telah tersedot pulsanya.
(Telah dipublikasikan di Warta Ubaya No. 155 Th XIV September 2007)
Sebetulnya ada cara gampang untuk menghindari informasi sampah via SMS, berkirimlah SMS ke orang-orang yang anda kenal saja dan hindari merespon iklan-iklan yang sedang ditawarkan di media massa dengan basis SMS. Apapun bonus atau hadiah yang diiming-imingkan, karena hadiah itu berasal dari sebagian besar uang pelanggan yang telah tersedot pulsanya.
(Telah dipublikasikan di Warta Ubaya No. 155 Th XIV September 2007)
Jejak Seluler
Oleh : Sis Soesetijo
Anda pasti ingat penculikan seorang anak TK yang dilakukan oleh sekelompok orang dimana 4 orang dari mereka masih duduk di bangku SMU di kota Jakarta. Tidak lebih dari 9 hari komplotan ini bisa dibongkar oleh aparat kepolisian. Tahukah anda kalau pembongkaran kasus ini berkat (salahsatunya) kecanggihan teknologi seluler. Ponsel yang sehari-hari kita sering kita gunakan itu, baik untuk menelepon maupun hanya ber-SMS selalu meninggalkan jejak. Jejak para pengguna selalu tercatat dengan baik di sentral para operator. Tidak peduli itu pakai paket pra-bayar atau bukan ! Aparat tinggal meneliti dan menganalisis tingkah laku para penggunanya.
Teknologi Seluler
Teknologi seluler yang digunakan sekarang menganut konsep sel yang kita pahami dalam bidang biologi. Sel sebagai bagian terkecil dari makhluk hidup juga dikenal pada teknologi GSM atau CDMA sebagai daerah layanan terkecil dari jaringan GSM atau CDMA. Sel-sel ini mempunyai identitas yang jelas dan berbeda dengan sel-sel lain pada jaringan GSM/CDMA. Berbeda baik dalam internal jaringan maupun antar jaringan operator. Tiap sel melayani daerah layanan (coverage area) yang berbeda dengan sel lain. Luasannya juga berbeda tergantung kepadatan pengguna pada tingkatan daerahnya. Semakin padat pengguna ponsel semakin sempit luasan daerah layanannya. Kota besar seperti Surabaya jumlah selnya jelas berbeda dengan kota Mojokerto. Surabaya jelas saja memiliki banyak sel dibanding Mojokerto.
Satu sel ini umumnya dilayani oleh satu BTS (Base Transmitter-Receiver System) yang dipancarkan oleh Antena yang dipasang pada menara-menara operator. Makanya, di kota seperti Surabaya ini saja sudah memilik ratusan menara BTS milik berbagai operator seluler. Tidak perlu jauh-jauh, coba kita lihat kampus Ubaya Tenggilis ada berapa menara yang berdiri di sekitarnya. Ada 6 menara ! Dua di antaranya ada di dalam kampus. Satu menara bisa memiliki satu atau lebih BTS, dan ini tergantung dengan tingkat kepadatan penggunaan ponsel.
Ambil contoh, kampus Ubaya tenggilis saja, paling tidak dilayani oleh 6 sel, sel mana yang akan dipakai oleh pengguna tergantung pada besar kecilnya sinyal penerima pada ponselnya. Jadi dari 6 sel tersebut memiliki prioritas sinyal, kalau diurutkan maka sel yang bakal melayani para pengguna adalah dari sel yang memiliki sinyal yang besar dan yang terakhir adalah yang paling lemah sinyalnya. Semakin dekat kita dengan menara BTS semakin besar pula sinyal yang diterima.
Identitas Pengguna
Baik teknologi GSM maupun CDMA, masing-masing mempunyai aturan penomoran pelanggan yang standar (sama). Nomor pelanggan standar ini disebut IMSI yang merupakan kependekan dari International Mobile Subscriber Identity. Nomor ini bukan yang kita kenal selama ini, yang selalu kita pakai untuk nomor tujuan menelepon atau kirim SMS. Nomor IMSI terdiri dari 15 digit, dimana 3 digit pertama adalah kode negara dan 2 digit berikutnya adalah kode operator sedangkan sisanya adalah kode pengguna. IMSI ini tersimpan di dalam SIM card pelanggan.
IMSI adalah nomor pelanggan, sedangkan IMEI (International Mobile Equipment Identity) adalah nomor identitas ponsel. Setiap pengguna mengaktifkan ponselnya maka dua nomor identitas ini (IMSI dan IMEI) akan selalu melakukan aktivasi di dalam sentral operator via HLR (Home Location Register) dan VLR (Visitor Location Register). Di sinilah jejak para pengguna mulai terekam. Dimanapun pengguna berada selama masih ada sinyal hinggap di ponselnya. Apabila ponsel mati, paling tidak jejak terakhir masih tertangkap di HLR/VLR, dimana dia terakhir berada.
Jadi selama ponsel diaktifkan, ada dua identitas yang dipegang oleh sentral operator yaitu IMSI dan IMEI. Apabila kita ganti SIM Card (berarti ganti nomor IMSI) dan dengan ponsel yang sama (berarti dengan IMEI yang sama) maka pihak operator akan dengan mudah mengenali dan mencari pengguna tersebut cukup dengan mendeteksi nomor IMEI-nya saja. Tapi inikan Indonesia Bung ! Orang dengan mudah mengganti IMEI (biasa dikenal dengan istilah IMEI tembus) hanya datang ke WTC dengan imbalan tertentu, sedangkan kalau di Jakarta ada ITC Roxy Mas. Wah persoalan jadi lain dong....!? Bisakah operator mengetahui jejaknya ? Tentu secara teknis masih bisa, hanya dengan metode yang berbeda.
Tracking Jejak Pengguna dengan Seluler
Apabila ponsel aktif semua lalulintas pengguna tertentu dapat terus dimonitor melalui IMSI dan IMEI milik pengguna, di daerah mana pengguna ini menelopon, ber-SMS, ke siapa saja yang dikontak olehnya, isi pembicaraan, isi SMS, lama kontak dan lain sebagainya. Semua informasi yang dibutuhkan oleh aparat tinggal menghubungi operator selulernya.
Ambil kasus penculikan anak di atas, ketika penculik menghubungi ortunya melalui ponsel untuk meminta uang tebusan, jejak penculik sudah terekam ketika terjadi koneksi telepon. Gagal nyambungpun jejak pengguna sudah terekam karena mereka telah menggunakan fasilitas sentral telepon. Penculik menelepon menggunakan IMEI dan IMSI yang sudah terekam. Kemudian tinggal mencari di daerah mana gerangan si penculik menelepon. Apabila daerah sudah diketahui melalui sel BTS mana yang dipakainya. Rincian lokasi dapat ditelusuri melalui jarak BTS dengan penculik via parameter TA (timing advance) dan level sinyal. Selanjutnya aparat yang akan memonitor lokasi persisnya melalui observasi lapangan.
Semakin canggih teknologi seluler yang ditawarkan oleh operator dan digunakan oleh pengguna, semakin mudah lokasi pengguna dilacak dan dimonitor. Apalagi teknologi seluler ini dilengkapi dengan teknologi GPS, semakin sulit anda bersembunyi. /sis/
(Telah dipublikasikan di Warta Ubaya No. 156 th XIV Oktober 2007)
Anda pasti ingat penculikan seorang anak TK yang dilakukan oleh sekelompok orang dimana 4 orang dari mereka masih duduk di bangku SMU di kota Jakarta. Tidak lebih dari 9 hari komplotan ini bisa dibongkar oleh aparat kepolisian. Tahukah anda kalau pembongkaran kasus ini berkat (salahsatunya) kecanggihan teknologi seluler. Ponsel yang sehari-hari kita sering kita gunakan itu, baik untuk menelepon maupun hanya ber-SMS selalu meninggalkan jejak. Jejak para pengguna selalu tercatat dengan baik di sentral para operator. Tidak peduli itu pakai paket pra-bayar atau bukan ! Aparat tinggal meneliti dan menganalisis tingkah laku para penggunanya.
Teknologi Seluler
Teknologi seluler yang digunakan sekarang menganut konsep sel yang kita pahami dalam bidang biologi. Sel sebagai bagian terkecil dari makhluk hidup juga dikenal pada teknologi GSM atau CDMA sebagai daerah layanan terkecil dari jaringan GSM atau CDMA. Sel-sel ini mempunyai identitas yang jelas dan berbeda dengan sel-sel lain pada jaringan GSM/CDMA. Berbeda baik dalam internal jaringan maupun antar jaringan operator. Tiap sel melayani daerah layanan (coverage area) yang berbeda dengan sel lain. Luasannya juga berbeda tergantung kepadatan pengguna pada tingkatan daerahnya. Semakin padat pengguna ponsel semakin sempit luasan daerah layanannya. Kota besar seperti Surabaya jumlah selnya jelas berbeda dengan kota Mojokerto. Surabaya jelas saja memiliki banyak sel dibanding Mojokerto.
Satu sel ini umumnya dilayani oleh satu BTS (Base Transmitter-Receiver System) yang dipancarkan oleh Antena yang dipasang pada menara-menara operator. Makanya, di kota seperti Surabaya ini saja sudah memilik ratusan menara BTS milik berbagai operator seluler. Tidak perlu jauh-jauh, coba kita lihat kampus Ubaya Tenggilis ada berapa menara yang berdiri di sekitarnya. Ada 6 menara ! Dua di antaranya ada di dalam kampus. Satu menara bisa memiliki satu atau lebih BTS, dan ini tergantung dengan tingkat kepadatan penggunaan ponsel.
Ambil contoh, kampus Ubaya tenggilis saja, paling tidak dilayani oleh 6 sel, sel mana yang akan dipakai oleh pengguna tergantung pada besar kecilnya sinyal penerima pada ponselnya. Jadi dari 6 sel tersebut memiliki prioritas sinyal, kalau diurutkan maka sel yang bakal melayani para pengguna adalah dari sel yang memiliki sinyal yang besar dan yang terakhir adalah yang paling lemah sinyalnya. Semakin dekat kita dengan menara BTS semakin besar pula sinyal yang diterima.
Identitas Pengguna
Baik teknologi GSM maupun CDMA, masing-masing mempunyai aturan penomoran pelanggan yang standar (sama). Nomor pelanggan standar ini disebut IMSI yang merupakan kependekan dari International Mobile Subscriber Identity. Nomor ini bukan yang kita kenal selama ini, yang selalu kita pakai untuk nomor tujuan menelepon atau kirim SMS. Nomor IMSI terdiri dari 15 digit, dimana 3 digit pertama adalah kode negara dan 2 digit berikutnya adalah kode operator sedangkan sisanya adalah kode pengguna. IMSI ini tersimpan di dalam SIM card pelanggan.
IMSI adalah nomor pelanggan, sedangkan IMEI (International Mobile Equipment Identity) adalah nomor identitas ponsel. Setiap pengguna mengaktifkan ponselnya maka dua nomor identitas ini (IMSI dan IMEI) akan selalu melakukan aktivasi di dalam sentral operator via HLR (Home Location Register) dan VLR (Visitor Location Register). Di sinilah jejak para pengguna mulai terekam. Dimanapun pengguna berada selama masih ada sinyal hinggap di ponselnya. Apabila ponsel mati, paling tidak jejak terakhir masih tertangkap di HLR/VLR, dimana dia terakhir berada.
Jadi selama ponsel diaktifkan, ada dua identitas yang dipegang oleh sentral operator yaitu IMSI dan IMEI. Apabila kita ganti SIM Card (berarti ganti nomor IMSI) dan dengan ponsel yang sama (berarti dengan IMEI yang sama) maka pihak operator akan dengan mudah mengenali dan mencari pengguna tersebut cukup dengan mendeteksi nomor IMEI-nya saja. Tapi inikan Indonesia Bung ! Orang dengan mudah mengganti IMEI (biasa dikenal dengan istilah IMEI tembus) hanya datang ke WTC dengan imbalan tertentu, sedangkan kalau di Jakarta ada ITC Roxy Mas. Wah persoalan jadi lain dong....!? Bisakah operator mengetahui jejaknya ? Tentu secara teknis masih bisa, hanya dengan metode yang berbeda.
Tracking Jejak Pengguna dengan Seluler
Apabila ponsel aktif semua lalulintas pengguna tertentu dapat terus dimonitor melalui IMSI dan IMEI milik pengguna, di daerah mana pengguna ini menelopon, ber-SMS, ke siapa saja yang dikontak olehnya, isi pembicaraan, isi SMS, lama kontak dan lain sebagainya. Semua informasi yang dibutuhkan oleh aparat tinggal menghubungi operator selulernya.
Ambil kasus penculikan anak di atas, ketika penculik menghubungi ortunya melalui ponsel untuk meminta uang tebusan, jejak penculik sudah terekam ketika terjadi koneksi telepon. Gagal nyambungpun jejak pengguna sudah terekam karena mereka telah menggunakan fasilitas sentral telepon. Penculik menelepon menggunakan IMEI dan IMSI yang sudah terekam. Kemudian tinggal mencari di daerah mana gerangan si penculik menelepon. Apabila daerah sudah diketahui melalui sel BTS mana yang dipakainya. Rincian lokasi dapat ditelusuri melalui jarak BTS dengan penculik via parameter TA (timing advance) dan level sinyal. Selanjutnya aparat yang akan memonitor lokasi persisnya melalui observasi lapangan.
Semakin canggih teknologi seluler yang ditawarkan oleh operator dan digunakan oleh pengguna, semakin mudah lokasi pengguna dilacak dan dimonitor. Apalagi teknologi seluler ini dilengkapi dengan teknologi GPS, semakin sulit anda bersembunyi. /sis/
(Telah dipublikasikan di Warta Ubaya No. 156 th XIV Oktober 2007)
Langganan:
Postingan (Atom)

